Archive

Posts Tagged ‘PKI’

Nasionalisme Semu Dibalik Alasan Menegakkan Kehormatan Bangsa!!

Bung Karno

Hari ini di Bandung, Koordinator Nasional Koalisi Kerakyatan, Moh Jumhur Hidayat menyerukan Pemerintah Belanda harus minta maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia karena telah menjajah Indonesia.

“Permintaan maaf itu harus disampaikan secara terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia atas penjajahan selama ratusan tahun sekaligus mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945,” katanya di Gedung Indonesia Menggugat di Bandung, Kamis (7/10). Read the rest of this entry »

Mantan Kepala Negara Kamboja Dikenai Dakwaan Genosida

sidang khieu samphanHari ini saya membaca berita di situs berita kesayangan saya BBC.  Judulnya “Khieu Samphan Dikenai Dakwaan“, sebuah judul yang cukup menarik perhatian dan menggelitik hati. Langsung saja saya membacanya: Read the rest of this entry »

Mengenang 1000 Hari Sastrawan Besar Pramoedya Ananta Toer

pram-10002edited-che22

Mengenang Pramoedya Ananta Toer

Oleh: Gentry Amalo

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, dan salah satu pahlawan itu adalah  penulis Pramoedya Ananta Toer.

Sebagai penulis Pram juga ikut angkat senjata terlibat dalam revolusi fisik 1945, sempat ditangkap NICA dan masuk dalam penjara NICA.

Di jaman Orde Lama, Pram juga pernah ditangkap dan dipenjara karena tulisannya yang berjudul “Hoakiau..” Read the rest of this entry »

KPK Ajak Slank Berantas Korupsi

Ayoo Dukung KPK!!

Oleh Gentry Amalo

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar pada 16 April lalu mengunjungi markas kelompok musik Slank di Jalan Potlot III no 14 Jakarta Selatan. Pada kunjungan balasan ini, Ketua KPK Antasari Azhar ditemui seluruh personel Slank Bimbim, Kaka, Ridho, Abdi dan Ivan. Menurut Antasari, kunjungannya kali ini merupakan komitmen bersama anak bangsa dalam memberantas korupsi. Read the rest of this entry »

In-Memoriam Murad Aidit

Saya, Wahab, Om Murad & Mbak Yuyun

Oleh: Gentry Amalo

Subuh tadi, pukul 05.44 wita, saat embun masih berselimutkan dingin, saya dikejutkan sebuah pesan singkat yang masuk ke salah satu nomor telepon genggam saya. Pesan ini dikirim salah seorang kerabat dekat Om Murad yang bunyinya “Telah meninggal dunia Om Murad Aidit pagi ini jam 4.55 AM, tolong disampaikan pada teman atau kerabat yang lain.”

Saya pun terhenyak sesaat, mata yang semula hendak terlelap sontak enggan terpejam lagi. Saya pun mencoba membaca ulang pesan singkat tadi. Hanya sekedar meyakinkan bahwa kabar duka ini memang benar adanya. Saya hanya bisa menghela nafas beberapa kali, sembari mengirim pesan singkat balasan dari saya kepada “MY”: “terima kasih Mba’ atas infonya, saya turut berduka..”, kemudian pesan singkat yang lain lagi, saya kirimkan kepada keponakan Om Murad yang berinisial MI,.. “Mas, turut berduka ya,.. atas berpulangnya Om Murad..” dan tidak berapa lama kemudian pesan singkat lain terkirim ke telepon genggam saya, rupanya balasan dari MI “terima kasih, salam hangat selalu..”

Jingga fajar pun mulai merekah, rasa duka ini membuat ingatan saya kembali pada peristiwa pertemuan kami beberapa tahun silam, tepatnya pada sebuah pagi di tahun 2001. Masih segar dalam ingatan saya. Saat itu Murad Aidit, yang biasa kami panggil dengan sebutan “Om Murad”, berkunjung ke Denpasar Bali.

Kunjungan ini bukanlah sebuah hal yang istimewa, mengingat salah satu keponakan Om Murad ketika itu, memang menetap di Denpasar. Perkenalan saya dengan Om Murad-lah yang membuat kunjungan itu menjadi istimewa, selain itu ada pula rencana kehadiran Madame Danielle Mitterrand di Bali, istri mendiang mantan Presiden Prancis. Beliau berniat bertemu dengan para mantan Tapol-Napol 65 di Bali. Saat itu Madame Mitterrand memang sedang melakukan perjalanan menuju Timor-Timur, sebuah negeri Sosialis Demokratik yang baru merdeka dari “penjajahan” Indonesia.

Selama pertemuan, banyak hal yang kami diskusikan terkait persiapan rencana pertemuan dengan mantan Ibu negara Prancis. yang paling saya ingat adalah batuk Om Murad yang sesekali terdengar ditengah-tengah keseriusan pertemuan.

Mengamati sesuatu secara mendalam sudah menjadi kebiasaan saya sedari kecil dulu. Terlebih jika ada “orang baru” yang hadir dalam sebuah kelompok atau pertemuan. Saat itu, saya memang lebih banyak memperhatikan Om Murad. Memperhatikan semua gerak-geriknya, mulai dari cara bicara hingga beberapa pandangannya dalam pertemuan itu.

Pagi itu, adalah pertemuan pertama saya dengannya. Sebelumnya saya, Habsari Savitri, dan juga Nanang, tidak menyangka bahwa dalam pertemuan ini, hadir salah satu adik kandung dari Achmad Aidit atau yang lebih dikenal dengan sebutan D.N. Aidit, Ketua Central Committe Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang sangat legendaris itu.

Saya tidak pernah menyangka ataupun bermimpi, bahwa saya akan bertemu dengan sosok yang sangat sederhana dan bersahaja ini. Mengenakan baju batik berwarna coklat, yang dipadankan dengan celana katun berwarna coklat muda. Rambut yang telah memutih dengan janggut perak yang dibiarkan sedikit memanjang, mengingatkan saya akan sosok Ho Chi Minh, bapak bangsa Vietnam.

Sembari bersalaman-tangan dengannya, saya menyebutkan nama saya. Saya memberikan komentar, “Janggut Om Murad mengingatkan saya akan sosok Uncle Ho.” Kata saya, Dia pun tertawa lepas.

Bersama Murad Aidit dan Bu Lami

Kendati tubuh rapuh dimakan usia, tetapi semangat yang berkobar tampak jelas terlihat dari mata Om Murad. Lantas Kami pun berfoto bersama dan foto yang sama saya temukan dua pekan silam, saat saya sedang membersihkan tumpukan buku-buku di kamar saya.

Pagi tadi, saya hanya bisa berdoa serta mengangkat tangan kiri, sambil berujar dalam hati, “Selamat jalan Om Murad, selamat jalan kawan, semoga persada suci ini, menerima kembali tubuh renta nan suci-mu itu. Semoga semangat perjuangan serta rela berkorban-mu tetap merasuk pada jiwa setiap anak muda bangsa ini.”

Ameen

In-Memoriam Lilis Surjani

Lilis Surjani

oleh: Gentry Amalo

Hujan yang turun sejak sore tadi baru saja usai. Sesaat saya melirik layar telepon genggam, hhmmm… ternyata sudah menunjukan pukul 21.30 wib,.. sudah malam rupanya. Udara dingin yang dibawa hujan petang tadi, masih terasa menusuk hingga sumsum tulang. Read the rest of this entry »