Kutuk
Aku tahu ini masih hari lahirmu, mengutuki ku dengan sumpah serapahmu, seolah-olah aku ini mahluk terkutuk, yang pantas dikutuk ke dalam neraka jahanam.
Aku marah? sama sekali tidak, karena marah bukanlah hak ku. Marah adalah hak alam ini. Dan alam ini adalah ibuku, ibu yang melahirkan aku.
Aku enggan melakukan hal serupa, seperti yang kau lakukan hari ini, karena hanya akan membuat diriku tercemar dan lelah berkepanjangan.
Mengutuki ku, hanyalah perbuatan sia-sia, karena sejak dulu aku anak yang diberkati.
“Setiap kata adalah doa yang dimeteraikan langit, kau mengutuki ku sekali, tapi langit dan alam ini memberimu balasan tiga kali lipatnya, karena disaat jari telunjukmu mengutukiku, tiga jarimu yang lain, mengarah kepadamu sendiri..”
Ingat pepatah lama: “mulutmu adalah harimau mu.. yang bisa mencabikmu kapan saja dan dimana saja,..” Kau mengutukiku kemarin dan hari ini, maka kutuk itu akan kembali kepada dirimu dan keluarga mu sendiri.
